MENYONGSONG ERA REVOLUSI INDUSTRI4.0 (TRANSFORMASI DIGITAL)REVOLUSI INDUSTRI.
MENYONGSONG ERA REVOLUSI INDUSTRI
4.0 (TRANSFORMASI DIGITAL)
REVOLUSI INDUSTRI
Industrialisasi dipandang sebagai langkah tepat dalam menjawab potret sejarah kemiskinan
dunia. Industrialisasi mempermudah pekerjaan dilakukan dan pada gilirannya mengurangi
kelaparan melalui ketersediaan makanan, memberikan ketersediaan akan kebutuhan pakaian,
dan kebutuhan akan tempat tinggal bagi sebagian kalangan tertentu. Lebih jauh, memberikan
masyarakatnya harapan hidup yang lebih panjang. Walaupun pada awalnya mengurbankan
sebagian masyarakat lainnya sehingga muncul kesenjangan sosial serta menghasilkan
kerusakan lingkungan, namun pada akhirnya industrialisasi mendatangkan kekayaan serta
kenyamaan hidup karena dikelilingi oleh peralatan-peralatan yang user-friendly technologies.
Alltit, 2014, mengemukakan:
“Revolution literally means the turning of a wheel, but figuratively, it means a
transformation that creates permanent change. The term “revolution” clearly is
appropriate because of the magnitude of the changes, considered collectively, and
because of their impact on the destiny of the entire world.
The phrase “industrial revolution” was used by Friedrich Engels in the 1840s.
Industrialization does not appear to be declining. On the contrary, it has ‘gone global’
and continues to generate new thechnologies, such as the recent emergence of
computers and the fascinating trend toward miniaturization.
Technological changes are often accompanied by new social and political
arrangements, suc as urban decentralization.
Revolusi Industri I
Revolusi Industri I dimulai dari ditemukannya Mesin Uap oleh James Watt pada tahun 1764.
Temuan ini berdampak pada pekerjaan-pekerjaan dalam pembuatan produk yang biasanya
dilakukan oleh tenaga hewan dan kekuatan manusia, yang diperlengkapi dengan peralatan
sederhana, kemudian beralih menggunakan mesin bertenaga uap. Hasilnya, barang-barang
dapat diproduksi dalam waktu yang relatif singkat sehingga jumlahnya melimpah dengan
harga murah. Revolusi Industri I membawa peralihan dari perekonomian berbasis pertanian
menjadi perekonomian berbasis industri. Hal ini menandai dimulainya Era Mekanisasi.
Revolusi Industri II
Revolusi Industri 2.0 diawali dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Faraday & Maxwell
sehubungan penggabungan kekuatan antara sistem magnetik dengan sistem elektrik yang
menggerakan mesin proses produksi serta ditemukannya ban berjalan yang digunakan dalam proses perakitan di berbagai industri, sehingga dapat menghasilkan produk dalam jumlah
besar (mass production). Lahirlah Era Elektrik.
Revolusi Industri III
Revolusi Industri 3.0 dimulai dari temuan internet dan komputer yang mempengaruhi pola
komunikasi dan peredaran informasi di masyarakat. Juga temuan robot yang menggantikan
tenaga kerja manusia dalam proses perakitan namun masih dikontrol oleh human operators.
Dengan demikian, bergeser ke era otomatisasi.
Revolusi Industri IV
Revolusi Industri 4.0 terjadi ketika robot yang terkoneksi dengan sistem komputer,
diperlengkapi dengan machine learning algorithms yang dapat belajar dan mengontrol robot
itu sendiri tanpa input dari human operators yang dikenal dengan istilah artificial
intellegence (AI). Lebih jauh, AI dihubungkan dengan internet based society. Pada dasarnya,
revolusi industri 4.0 merupakan penyatuan dunia online dengan industri produksi, sehingga
merupakan revolusi industri digital. Revolusi industri 4.0 dalam dunia bisnis berdampak pada
pekerjaan di masyarakat dan posisi dalam organisasi yang ada pada hari ini, yang tidak akan
ada lagi dalam 50 tahun ke depan, Xing & Marwala (2016).
Sehubungan dengan keunggulannya, Xing dan Marwala (2016) mengemukakan bahwa
revolusi industri 4 mengintegrasikan rantai nilai vertikal dan horisontal dengan
menghubungkan secara digital semua unit produktif dalam perekonomian. Saat ini industri di
dunia, Amerika, China, dan bahkan Eropa, tengah memasuki era revolusi industri ke 4, era
digital, yang menggunakan peralatan otomatisasi dan internet of things (IoT). Sekertaris
Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika dari
Kementerian Perindustrian pada saat meresmikan Pameran Manufacturing Indonesia 2017
menyampaikan bahwa yang terutama bagi Indonesia saat ini adalah keharusan untuk
mengembangkan dan membangun sektor Industri Permesinan yang merupakan pendukung
dari seluruh proses produksi pada industri lainnya khususnya pada sektor Industri Manufaktur
(Kompas 9 Desember 2017).
Berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana efek dari pemanfaatan
teknologi terhadap kinerja perusahaan. Kariuki (2005) memperoleh temuan bahwa e-banking
memberikan dampak positif baik terhadap profitabilitas karena adanya peningkatan pangsa
pasar akibat customized products, juga terhadap pelayanan yang lebih baik terhadap
permintaan klien. Namun, dampaknya juga terjadi pada turnover tenaga kerja. Wachira
(2013) mendasarkan penelitiannya pada Aduda & Kingoo (2012) yang menyatakan bahwa
sebagian besar bank di Kenya melakukan investasi besar-besaran dalam teknologi informasi
dan komunikasi. Dampaknya, kegiatan operasional bank menjadi lebih efisien. Dalam
studinya, Wachire (2013) menguji pengaruh inovasi teknologi terhadap kinerja keuangan
bank komersial di Kenya. Studi ini didorong oleh perubahan di sektor perbankan sejak
pemerintah Kenya mengeluarkan deregulasi sehubungan dengan e-banking yang membuat
banyak cabang bank ditutup dan diganti dengan yang disebut self serviced banking.
Penelitiannya melibatkan profitabilitas sebagai variabel terikat dengan tiga variabel bebas,
yaitu: customer independent technology (suatu teknologi yang membuat seorang konsumen
dapat melakukan transaksi dengan bank tanpa berinteraksi dengan orang dalam institusi
tersebut, seperti: ATM, phone banking dan internet banking), customer assisted technology
(contohnya: customer relationship management system yang digunakan oleh customer
service officer untuk mengenali dan memperbaharui profil konsumen dan memberikan respon
terhadap kebutuhan konsumen saat dilakukan transaksi), dan customer transparent
technology (teknologi yang mencerminkan operasi bank).
Hasilnya menunjukkan bahwa adanya korelasi positif dan kuat, antara kombinasi ketiga
variabel bebas terhadap profitabilitas, sebesar = 0,713 dengan 50,8% variasi profitabilitas
yang dapat dijelaskan oleh model. Studi ini menggarisbawahi adanya kebutuhan bank di
Kenya untuk melakukan investasi inovasi teknologi secara kontinu dalam mempertahankan
kemampuan bersaing yang tinggi. Inovasi teknologi dalam decision support technological
systems sektor perbankan merupakan faktor kunci dalam keunggulan bersaing. Teknologi
inovasi di perbankan bersifat disruptif dikarenakan teknologi baru yang menggantikan itu
sangat jauh berbeda dengan teknologi tradisional. Jadi, di satu sisi inovasi teknologi
memberikan kontribusi terhadap kinerja bank. Namun, di sisi lain menyebabkan adanya tipe
pekerjaan yang hilang, dalam hal ini adalah kasir bank.
Revolusi industri yang diawali dengan keberhasilan menemukan teknologi yang
mempermudah kehidupan manusia, di kemudian hari menimbulkan permasalahan yang
meresahkan. Keresahan tersebut bersumber dari dampak yang ditimbulkannya dalam
masyarakat, yaitu hilangnya beberapa jenis pekerjaan tertentu, walaupun dari kemampuan
memprediksi dan dari pengalaman sebelumnya, diantisipasi akan memunculkan jenis-jenis
pekerjaan baru. Namun, ditengarai bahwa era digitalisasi sebagai hasil dari perubahan
teknologi revolusi industri 4.0, dibandingkan revolusi industri sebelumnya, akan ada lebih
banyak lagi perkerjaan-perkerjaan yang ‘hilang’ karena digantikan oleh robot dengan
kemampuan berpikir seperti manusia, artificial intellegence. Brynjolfsson & McAfee, 2014,
menyakini bahwa perubahan teknologi telah menghabisi pekerjaan lebih cepat dari
menciptakan pekerjaan.
Big Data dan Artificial Intelegent
Komputer telah lama berada di masyarakat, namun tidak menangkap perilaku penggunanya.
Berbeda saat smartphone digunakan, perilaku konsumen dapat dikumpulkan dalam big data
sebagai hasil perekaman aktifitas pergerakan melalui penggunaan GPS, hasil penggunaan
akses terhadap internet, hasil komunikasi menggunakan media sosial, hasil interaksi antara
konsumen dan produsen dalam menggunakan produk, dan hasil perilaku atau kebiasaan
lainnya. Sehubungan dengan Big Data, Marr (2017:1-2) mengemukakan:
The term ‘big data’
refers to the collection of all that data and our ability to use it to
our advantage across a wide range of areas, including business. Computers, and
particularly spreadsheets and data bases gaves us a way to store and organize data on
a large scale, in an easily accessible way. Data today can cover everything from
spreadsheets to photos, videos, sound recordings, written text and sensor data.
Big data knows a lot about you. It goes way beyond Google knowing what you’ve
searched for online and Facebook knowing who you’re friends with and who you’re in
a relationship with. Your internet service provider knows every website you’ve ever
visited even in private browsing. Facebook can also predict whether your relationship
is going to last or, if you’re single, when you’re about to be in a relationship (and with
whom). Facebook can also tell how intellegent you are, based on an analysis of your ‘likes’.
Big data merekam semua data serta kegiatan yang pernah dilakukan untuk kemudian
memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa mendatang. Dengan demikian, Big Data
memiliki jelajah yang jauh melampaui jaringan media sosial karena mempengaruhi hampir
setiap aspek kehidupan moderen. Ketersediaan dan penggunaan big data tidaklah
terhindarkan dalam bisnis mendatang. Banyak perusahaan konvensional yang sudah mulai
beralih ke media online karena media tersebut lebih mudah diakses, baik perusahaan kecil ataupun perusahaan besar.
Marr (2017:8) mengungkapkan bahwa ada tiga area utama dalam bisnis yang sangat
membutuhkan akses terhadap big data, yaitu improving decision making, improving
operations, dan the monetizing of data:
1. Improving decision making
Big data enables companies to collect better market and customer intellegence. With the everincreasing amount of data available, companies are gaining much better
insights into what customers want, what they use (and how), how they purchase
goods, and what they think of those goods and services. And this information can be
used to make better decisions across all areas of the business, from product and
service design to sales and marketing and aftercare.
2. Improving Operations
Big data helps companies gain efficiencies and improve their operations. From
tracking machine performance to optimizing delivery routes to even recruiting the
very best talent, big data can improve internal efficiency and operations for almost
any type of business and in many different departments. Companies have even
strarted using sensors to track employee movements, stress, health, and even who they
converse with and the tone of voice they use, and using that data to improve employee
satisfaction and productivity.
3. The Monetizing of data
Data also provides the opportunity for companies to build big data into their product offeringthereby monatizing the data itself.
Laporan riset Internasional Data Corporation (IDC) Worldwide Semiannual Big Data and
Analytics Spending Guide yang dikutip oleh Mediana (2018) menunjukkan bahwa
pendapatan bisnis teknologi dari hasil pengumpulan, pengolahan dan analisa data berukuran
besar (big data analytic) secara global mencapai 150,8 milyar dollar AS (senilai Rp.2.023,70
tilyun) pada 2017, yang berarti naik 12,4% dibandingkan dengan tahun 2016. Informasi
laporan riset tersebut menunjukkan manfaat yang sangat besar yang diperoleh dari big data
analytic.
Sebuah studi dilakukan oleh Ross, Beath dan Quaadgrass (2013) sehubungan dengan
pemanfaatan big data analitic - yang melibatkan tujuh kasus dan mewawancarai para
eksekutif dari 51 perusahaan - untuk memahami bagaimana perusahaan memperoleh nilai
bisnis dari pengelolaan data besar (big data analytic). Hasilnya, ternyata hanya sedikit
diantara responden yang konsisten memanfaatkan big data analytic dalam pengambilan
keputusan. Ross, Beath, dan Quaadgrass (2013) menyampaikan bahwa adalah penting
melakukan pengumpulan data menjadi big data untuk kemudian melakukan pengolahan dan
dilanjutkan dengan analisis terhadap big data tersebut. Tetapi yang lebih penting lagi adalah
membangun kultur atau budaya, yaitu mengimplementasikan pengambilan keputusan
berdasarkan data hasil pengumpulan, pengolahan dan analisa big data hingga ke tingkat
karyawan.
Sehubungan dengan big data perilaku pelanggan, dimulai dari pengumpulan data
pelanggan, kemudian dilakukan pengolahan data, dan selanjutnya dianalisa. Hasil analisa
data yang diperoleh dari big data dapat digunakan dalam membaca perilaku pelanggan,
menangkap perubahan perilaku pelanggan dan yang terpenting adalah memprediksi
kebutuhan pelanggan, baik kebutuhan yang sudah ada maupun kecenderung kebutuhan yang
akan muncul di masa mendatang.
Dengan adanya big data, maka artificial intellegence kemudian dapat lebih
dikembangkan lagi. Mirabito dan Morgenstern (2004) mendefinisikan:
Kecerdasan buatan adalah suatu sistem berbasis komputer yang menduplikasi
kemampuan paling penting manusia, yaitu berpikir dan mencari sebab. Proses berpikir tersebut mengacu pada teknologi jaringan saraf (neural network technology) yang
berusaha menyimulasi secara elektronik bagaimana otak memproses informasi melalui
jaringan saraf-saraf yang saling terhubung untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
Mengolah big data menjadi informasi serta dimanfaatkan dalam kecerdasan buatan
merupakan sebuah peluang yang disadari oleh beberapa perusahaan, seperti General Electric
dengan membentuk GE Digital yang menawarkan layanan otomatisasi produktivitas industri
melalui pengumpulan, pengolahan dan penganalisaan data mesin industri agar berproduksi
pada tingkat yang paling optimal dan hemat energi. Demikian juga IBM, dengan mesin
pembelajar Watson Oncology dan bekerja sama dengan rumah sakit kanker menyodorkan
terapi terbaru yang mampu mengakses informasi baru dengan seketika. Tidak mau
ketinggalan, Hitachi Ltd mulai menggeser fokus bisnisnya dengan kecerdasan buatan
Lumada yang mampu memberi peringatan sebagai hasil dari pemantauan gerak di luar pola
rutin para karyawan pabrik melalui kamera pemantau (CCTV) agar proses produksi tidak
terganggu (Kompas, 2 Mei 2017: “Data Memberi Daya”). Penggunaan kecerdasan buatan ini
mulai marak digunakan di perusahaan-perusahaan di Indonesia (Kompas, 2 Mei 2017:
“Kecerdasan Buatan Tidak Terelakkan), seperti: di Perusahaan Jasa Transportasi onLine
untuk mengetahui perubahan perilaku pengemudi atau penumpang dalam kegiatan
operasional di berbagai kota, di Perusahaan Jasa Teknologi Finansial untuk layanan pinjaman
antar pihak, di Perusahaan Jasa Pembelajaran Bahasa Asing untuk penyusunan modul
pembelajaran otomatis sesuai respon pemelajar, di Perusahaan Jasa Penyiaran Berita.
Para ahli menyatakan bahwa saat ini ‘dunia’ berada pada revolusi industri 3.
Kehadiran Teknologi Komunikasi dan Informasi masih membawa misi mempermudah
kehidupan manusia. Revolusi Teknologi sudah jauh memasuki kehidupan manusia yang
membawa pada perubahan dalam tatanan sosial. Ketika otomatisasi dalam industri
permesinan mempengaruhi sektor industri lainnya, ada industri tertentu yang diatur oleh
pemerintah untuk tidak serta merta menggunakan mesin otomatisasi tersebut mengingat
dampaknya yang sangat signifikan terhadap kehidupan masyarakat, dalam hal ini tingkat
pengangguran. Ketika machine learning algorithme yang dikenal sebagai artificial
intellegence-yang telah diperlengkapi dengan sensor penerima input, perekam data kuantitatif
maupun kualitatif-yang senyatanya merupakan ciptaan segelintir manusia super jenius tetap
mampu menpertahankan nilai-nilai kemanusiaan, tentunya selayaknya disambut dengan baik
di berbagai kalangan di masyarakat. Namun, akan sangat disesali jika masyarakat dunia
dijadikan sebagai ajang kompetisi dari para super jenius yang berlomba memproduksi
artificial intellegence dengan pembaharuan yang terus menerus tanpa mempertimbangkan
dampak terhadap kemanusiaan. Sejatinya, manusialah yang harus tetap memegang kendali
atas peradaban manusia.
‘Siapapun yang berhasil menguasai Artificial Intellegence (kecerdasan buatan) akan
menguasai dunia’, Vladimir Putin
INTERNET-BASED SOCIETY
Lau & Li (2003) mengemukakan bahwa:
The ‘Digital Era” refers to a time in which there is widespread, ready and easy access
to, sharing of, and use of information (knowledge) in electronically accesible, i.e.,
digitized, form, in economic activities. The “Digital Era”is characterized by the
information and communication technology (ICT) revolution and its rapid international
diffusion, which has led to reductions in the costs of information, in transactions costs,
and in costs of market formation but increases in timeliness of information and in presicion.
Internet adalah alat transimisi elektronik yang membuat orang dapat memperoleh dan
menyampaikan informasi. Diperlengkapi ponsel yang terhubung dengan internet, maka dalam
hitungan menit ratusan juta orang terkoneksi dalam dunia daring yang menjadikannya
‘wadah’ baru dalam menyampaikan pendapat bahkan berekspresi.
Marr
(2017) mendefinisikan :
“The Internet of Things (IoT) refers to devices that collect and transmit data via the
Internet and covers everythings from your smartphone, smartwatch, Fitbit band, even
your TV and refrigerator”.
Dengan adanya internet, seperti yang dikatakan Scmidt & Cohen (2014), setiap orang akan
senantiasa berada dalam dua dunia: dunia nyata yang telah terbentuk selama ribuan tahun,
dan dunia maya yang masih sedang mencari bentuknya. Di dunia maya membuat kita dapat
menikmati konektivitas dengan cepat melalui berbagai peralatan, walaupun konektivitas tidak
serta merta menghapus kesenjangan yang terjadi di dunia nyata. Ternyata, di dunia nyata kita
masih harus berjuang melawan berbagai rintangan, seperti rintangan geografis, keadaan lahir
(lahir di keluarga kaya di negara kaya, sedangkan yang lainnya lahir di keluarga miskin di
negara miskin), serta perbedaan hakikat sebagai manusia. Dengan demikian, sebagai warga
dunia kita akan memiliki dua identitas, yaitu identitas di dunia nyata dan identitas di dunia
maya. Bagi orang yang sudah hidup dalam keduanya, maka kedua dunianya itu tidak
terpisahkan satu sama lain. Terjadinya konektivitas digital, dipastikan semua orang dapat
memperoleh manfaat meski tidak senantiasa setara, paling tidak dapat meringankan beberapa
penyebab yang sulit diatasi seperti minimnya kesempatan untuk belajar dan dapat mencari
peluang ekonomi. Bagi perusahaan/organisasi baik di masyarakat yang paling maju maupun
yang paling tertinggal, diharapkan dapat untuk membenahi keadaan pasarnya, membenahi
sistemnya, membenahi berbagai hal yang tidak efisien.
Dengan konektivitas digital, selanjutnya Schmidt & Cohen (2014) mengemukakan
bahwa di masa mendatang pekerjaan yang menuntut kehadiran fisik kian berkurang dan akan
lebih banyak lagi pekerjaan yang terotomatisasi. Orang-orang akan bersaing memperebutkan
pekerjaan antar negara akibat globalisasi yang semakin menipiskan monopoli lokal. Dalam
kegiatan pendistribusian, rantai pasokan korporasi semakin pendek membuat konsumen dapat
membeli barang yang diproduksi di belahan dunia lain dan barang yang dipesan dari jauh
dapat tiba di tempat tujuan yang berjarak ribuan kilometer menggunakan transaksi daring.
Dengan demikian, perusahaan atau organisasi harus memahami bagaimana teknologi
menggerakkan perubahan besar dalam area bisnis.
Sayangnya, disamping kemudahan yang diberikan, ada harga yang harus dibayar,
yaitu privasi dan keamanan. Bagi Schmid dan Cohen (2014) mempertahankan kekuasaan dan
menyediakan keamanan merupakan tujuan keberadaan suatu Negara, melalui kebijakan
dalam negeri dan kebijakan luar negeri. Dengan keberadaannya di dunia maya disamping di
dunia nyata, maka setiap Negara juga perlu menetapkan dua versi, yaitu kebijakan dalam
negeri dan kebijakan luar negeri untuk di dunia nyata serta kebijakan dalam negeri dan
kebijakan luar negeri untuk di dunia maya. Kebijakan-kebijakan tersebut bisa berbeda satu
dengan lainnya dimana yang satu tegas, namun yang lain dibiarkan; di dunia maya bertempur
habis-habisan, tetapi tetap memelihara perdamaian di dunia nyata. Bagi suatu Negara, yang
terutama adalah mengatasi ancaman terhadap Otoritas Negara yang datang dari kondisi
terkoneksi tersebut. Oleh karenanya, Negara perlu memahami bagaimana teknologi menggerakkan perubahan.
Digital Economy
Ada tiga tahapan digitalisasi, sebagai berikut:
Seperti yang dikutip oleh Kustiwan (2017), bahwa Farid Subkhan, profesional di bidang
marketing dan smart city menyatakan bahwa ada tiga tahap digitalisasi:
1. Tahap Digitalisasi 1.0, teknologi sebatas menghitung atau mendokumentasi sehingga
memudahkan pengambilan keputusan.
2. Tahap Digitalisasi 2.0, teknologi sudah terhubung satu sama lain sehingga menjadi
media sosial untuk bersosialisasi.
3. Tahap Digitalisasi 3.0, teknologi memberikan akses bagi publik untuk berpartisipasi
aktif memberi tanggapan dan respon.
Lahirnya era digital, membangkitkan konektivitas global dimana orang dalam jumlah yang
tak terhitung saling terhubung secara daring dan memberikan respon yang luar biasa. Hal ini
merupakan sebuah keberhasilan dalam memahami bagaimana teknologi menggerakkan
perubahan. Perubahan teknologi ini akan memunculkan paradigma baru yang sangat drastis
perbedaannya dimasa mendatang sehingga memunculkan pertanyaan ‘bagaimana manusia di
seluruh dunia memanfaatkan teknologi baginya, kini dan di masa mendatang.
Dalam ilmu ekonomi, indikator penting pertumbuhan ekonomi adalah produktifitas
yang mengukur nilai ekonomi yang diciptakan untuk setiap satu unit input, seperti jam tenaga
kerja. Semakin tinggi nilainya, menunjukkan adanya perkembangan atau kemajuan
perekonomian. Peningkatan jumlah pekerjaan bersesuaian dengan peningkatan produktivitas.
Dijelaskan oleh Brynjolfsson & McAfee (2014), bahwa hadirnya bisnis mendatangkan lebih
banyak peluang kerja bagi para pekerja, yang merupakan bahan bakar dalam kegiatan
ekonomi, dan bahkan menciptakan lebih banyak lagi pekerjaan. Namun, dikatakannya bahwa
mulai awal tahun 2000 di Amerika Serikat, produktivitas terukur terus menerus mengalami
peningkatan, tetapi pekerjaan mengalami kelesuan. Bahkan sejak tahun 2011, ada gap yang
signifikan, yaitu pertumbuhan ekonomi tidak paralel dengan peningkatan penciptaan
lapangan pekerjaan. Penjelasan Brynjolfsson & McAfee (2014) bahwa teknologi telah
menyebabkan pertumbuhan produktivitas yang sehat dan pertumbuhan pekerjaan yang lemah.
Kemajuan teknologi telah menghilangkan kebutuhan terhadap berbagai tipe pekerjaan,
sehingga median income tidak mampu meningkat bahkan ketika gross domestic product
(GCP) melonjak. Dikatakannya: ‘It’s the great paradox of our era. Productivity is at record
levels, innovation has never been faster, and yet at the same time, we have a falling median
income and we have fewer jobs. People are falling behind because technology is advancing
so fast and our skills and organizations aren’t keeping up”. Teknologi yang telah membuat
pekerjaan menjadi lebih mudah, lebih aman, dan lebih produktif, ternyata menurunkan
permintaan terhadap berbagai tipe pekerjaan.
Menurut Ketua Umum Indonesia E-Commerce Accosiation, Aulia E. Maurinto,
seperti yang dikutip oleh Rachmawati (2017): Indonesia merupakan negara dengan
petumbuhan e-commerce tertinggi di dunia. Hal ini dikarenakan gaya hidup masyarakat
Indonesia yang sudah semakin digital, membuat nilai transaksi e-commerce di Indonesia
tumbuh 39,6% per tahun dan diprediksi akan mencapai 1.000 trilyun pada tahun 2020. Riset
dari Bloomberg menyatakan bahwa pada 2020 lebih dari separuh penduduk Indonesia akan terlihat.
ERA DISRUPTIF
Schumpeter’s Theory of Creative Destruction
Dikutip dari Weis (2015), sehubungan dengan “Theory of Creative Destruction” yang
dikemukakan oleh Schumpeter (1950) yang menjelaskan bahwa proses pembaharuan
ekonomi terjadi melalui inovasi yang merupakan mekanisme merusak keseimbangan yang
tengah terjadi dan kemudian menciptakan yang baru. Dengan demikian, inovasi merupakan
faktor fundamental dalam penentu perubahan ekonomi. Schumpeter (1950) menggambarkan
proses inovasi sebagai berikut:
“The opening up of new markets, foreign or domestic, and the organizational
development from the craft shop and factory to such concern as U.S. Steel illustrate the
same process of industrial mutation- if I may use that biological term-that incessantly
revolutionize the economic structure from within, incessantly destroying the old one,
incessantly creating a new one. This process of Creative Destruction is the essential
fact about capitalism. It is what capitalism consists in and what every capitalist
concern has got to live in.”
Bagi Schumpeter (1950), sehubungan dengan hasrat untuk mencipta, maka entreprenuer
merupakan figur yang bersedia dan berkemampuan untuk mengimplementasikan ide-ide dan
penemuan-penemuan barunya menjadi inovasi yang berhasil. Dengan
tecnological
innovation, entrepreneurs mengembangkan output-output baru melalui tahapan proses baru
sehingga menciptakan suatu keadaan yang dapat menyingkirkan para pesaingnya dan
imitators. Keadaan ini menggambarkan suatu persaingan. Dalam pandangan Schumpeter
(1950), persaingan merupakan proses penciptaan pengetahuan baru dalam sistem ekonomi
yang berkompetisi, sehingga menghancurkan lapangan kerja tetapi juga menciptakan
lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, entreprenuer merupakan agen perubahan. Weis (2015)
mengemukakan bahwa perusahaan yang inovatif berbeda dari perusahaan tradisional yang
secara aktif melakukan perubahan-perubahan. Menjadi inovatif merupakan aspek penting
yang tertanan dan berakar dalam visi, strategi dan budaya perusahan.
GENERASI MILENIAL
“Generasi Milenial adalah generasi yang terlahir dalam kisaran 1980-2000, sebagian generasi
Y (lahir tahun 1980) dan sebagian generasi Z (lahir tahun 2000). Generasi ini dikenal sebagai
generasi yang ‘bergaul erat’ dengan teknologi komunikasi dan informasi, yaitu: melalui
internet berselancar di dunia maya dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi melalui
sosial media. Perbedaan mencolok dengan generasi sebelumnya ditunjukkan dalam pola
berbelanja. Generasi pendahulunya memerlukan keyakinan yang tinggi terlebih dahulu akan
keadaan barang yang akan dibelinya, sehingga mengharuskan dirinya untuk memeriksa
kondisi riil barang tersebut di lapangan sebelum memutuskan untuk membelinya. Sementara
generasi Y maupun Z sudah bisa mempercayai kondisi barang yang akan dibelinya dengan
hanya melihatnya melalui internet. Demikian pula dengan sumber informasinya, baik
informasi yang paling umum hingga yang bersifat ilmiah, semuanya dilakukan dengan
searching di internet. Padahal generasi sebelumnya memperoleh informasi dari berbagai
sumber, seperti: membaca media cetak untuk memperoleh ‘opini’, melihat televisi untuk
memperoleh berita terkini, mendengarkan radio untuk informasi sehubungan dengan iklan,
bahkan mengunjungi perpustakaan untuk memperoleh bahan bacaan ilmiah.
Terkoneksi merupakan kata kunci dari generasi milenial yang hanya dimungkinkan
ketika memiliki teknologi komunikasi namun juga ‘sinyal’ yang membuat keterhubungan
satu dengan lainnya. Berbagai daerah di negeri Indonesia saat ini belum dapat dijangkau
akibat tidak ada ‘sinyal’. Jadi di berbagi tempat, banyak generasi muda usia 17 – 29 yang
seharusnya menjadi generasi milenial namun tidak dimungkinkan. Sebaliknya, banyak
generasi yang tidak muda lagi usianya di kota-kota besar di Indonesia namun justru memiliki
kebergantungan terhadap teknologi informasi dan komunikasi tersebut.